Eksternalitas Negatif Mafia Beras, Mengembalikan Fungsi Strategis Bulog sebagai Stabilisator Harga

Mafia Beras, Bulog Stabilotor Harga

Kita sering kali menghitung kerugian korupsi semata dari lembaran rupiah yang dicuri dari brankas negara. Padahal, dalam kejahatan pangan seperti pengoplosan beras SPHP, terdapat deadweight loss (kerugian bobot mati) yang menjalar bagaikan virus ke seluruh urat nadi perekonomian. Dalam ilmu ekonomi, inilah yang disebut negative externalities (eksternalitas negatif).

Dokumen kajian Aliansi Pemuda Peduli Pangan Daerah (AP3DA) NTB memaparkan secara forensik bagaimana eksternalitas ini terjadi. Ketika 110 ton beras SPHP di Lombok Timur dioplos dengan menir secara berlebihan, dampaknya bukan hanya negara kehilangan subsidi. Di ujung rantai konsumen, seorang ibu yang memberikan makan anak balitanya dari beras oplosan ini akan mendapati persentase bulir utuh (head rice yield) yang rendah, nilai sensoris yang buruk, dan asupan kalori riil yang jauh dari standar gizi. Secara makro, ini adalah pencurian daya beli (purchasing power) rakyat secara terstruktur.

Di tingkat nasional, manipulasi tata niaga beras ini diestimasikan merugikan konsumen hingga Rp 99,35 triliun dalam setahun! Harga yang teramat mahal akibat keserakahan segelintir oknum.

Lebih jauh, mafia beras ini menyerang langsung jantung fungsi institusional Perum BULOG sebagai buffer stock agency (agen penyangga stok). Ketika pasar dibanjiri beras oplosan berlabel “medium” yang aslinya adalah produk cacat, hukum permintaan dan penawaran terdistorsi. Beras ini merusak harga pasar, membuat gabah hasil keringat petani lokal NTB sulit diserap dengan harga yang wajar.

Memasuki usia 59 tahun, BULOG harus mengembalikan khittah-nya di tengah gempuran anomali pasar ini. Penggerebekan besar-besaran oleh Satgas Pangan NTB dan penyitaan ratusan ton beras ilegal adalah upaya penyelamatan pasar yang krusial. Aparat membongkar paksa operasi pasar gelap agar tata niaga kembali menemukan ekuilibriumnya yang sehat.

Tema “Mengawal Pangan Menjaga Masa Depan” merepresentasikan ketangguhan Bulog. Institusi ini tidak boleh melemah karena sabotase oknum mitranya. Terbongkarnya sindikat FP di Lombok Timur dan NA (oknum ASN) di Lombok Barat membuktikan komitmen negara membersihkan pasarnya.

Hanya dengan pasar yang bersih dari komoditas oplosan, instrumen stabilisasi Bulog bisa kembali efektif. Harga akan terbentuk secara adil, subsidi APBN akan tepat sasaran, petani sejahtera karena jerih payahnya dihargai tinggi, dan masyarakat luas bisa menikmati nasi yang sehat tanpa rekayasa. Ini bukan hanya tentang menyelamatkan ekonomi, tapi menyelamatkan masa depan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *